Tottenham vs Liverpool dan Chelsea vs Arsenal Bukti Kedigdayaan Liga Inggris

Klub Liga Inggris pulang mendominasi turnamen di Eropa. Setelah penyuka sepak bola dunia bengong dengan keberhasilan Tottenham Hotspur yang tembus final Liga Champions guna jumpa Liverpool, sekarang dua klub asal London Arsenal dan Chelsea pun jumpa di final di Liga Europa.

Benua Eropa dalam lima tahun terakhir seakan menjadi kepunyaan klub Liga Spanyol. Dalam lima edisi terakhir, klub asal Spanyol; Barcelona, Real Madrid, Sevilla dan Atletico Madrid bergantian jadi juara Liga Champions dan Liga Europa.

Tercatat, melulu Manchester United (MU) yang dapat memotong kekuasaan Spanyol di Liga Europa.Sedangkan di Liga Champions, Real Madrid menggondol trofi empat kali, sementara Barcelona satu kali.

Dominannya klub asal Liga Spanyol di Liga Champions atau Liga Europa memang susah dimengerti. Soalnya level persaingan La Liga Spanyol dengan premier league (Liga Inggris) dapat disebut relatif sama.

Liga Inggris menemukan rating tertinggi dalam tontonan televisi sebab persaingan di sini lebih sengit. Klub papan bawah dan papan atas terkadang tidak terdapat jarak, bertolak belakang dengan Liga Spanyol dimana jarak antara klub besar laksana Barcelona, Real Madrid dan Atletico dengan klub semenjana laksana Rayo Vallecano, Getafe dan Eibar begitu kentara.

Liga Inggris pun menampilkan pemain-pemain yang otomatis paling tangguh secara fisik. Permainan cepat yang mengandalkan jasmani membuat pemain-pemain dan klub asal Liga Inggris tangguh saat berkelahi di persaingan lain.

Manajer Chelsea, Maurizio Sarri contohnya menilai bila persaingan di Liga Inggris begitu gila. Main di Inggris pun disebutnya paling menguras jasmani karena klub dapat main dari 60 kali dalam semusim. Chelsea sendiri melakoni laga ke-61 ketika kalahkan Eintracht Frankfurt 4-3 lewat adu penalti di Stamford Bridge, Jumat (10/5/2019).

Sarri menyatakan tak terkejut dengan lolosnya empat klub asal Liga Inggris di partai final Liga Champions dan Liga Europa. Padatnya jadwal di Inggris menciptakan seluruh kesebelasan asal Inggris tangguh.

“Di sini, level pertandingan paling tinggi. Sangat tinggi,” katanya.

“Kalau kita berpikir, kami dapat tembus final Piala Liga Inggris mesti kalahkan Liverpool dan Tottenham, final Liga Champions. Setelah tersebut kami melawan Manchester City, kesebelasan terbaik di Eropa pada laga final. Tak dapat disangkal, Liga Inggris persaingan terbaik di Eropa bahkan dunia.”

Kebanggaan Spurs

Final Liga Champions antara Liverpool vs Tottenham Hotspur dipercayai sangat menyita perhatian. Inilah dua klub sangat tangguh yang terbukti dapat lewati tidak sedikit rintangan sepanjang Liga Champions dengan sukses.

Tottenham tak disangka dapat sampai di final Liga Champions yang bakal dimainkan 2 Juni 2019 nanti di Wanda Metropolitano, Madrid. Tak melakukan pembelian satupemain juga musim ini, Spurs dapat membuktikan dapat kompetitif.

Manajer Spurs, Mauricio Pochettino dapat melewati waktu sulit ketika kehilangan di antara pemain andalan, Harry Kane yang cedera panjang. Tanpa Kane, Spurs dapat andalkan Lucas Moura yang bercahaya gemilang ketika leg kedua semifinal Liga Champions, Kamis (9/5/2019) pagi-pagi sekali WIB lalu. Dia mencetak tiga gol yang mengirimkan Spurs ke final Liga Champions.

Di sisi lain, Pochettino sudah menciptakan Spurs menjadi kesebelasan bandar judi bola yang lebih tangguh semenjak dipinang dari Southampton pada musim panas 2014. “Kami hidup dalam impian. Lima tahun lalu saat sampai di sini, misinya ialah memangkas gap dengan empat kesebelasan teratas dan lantas mempunyai peluang bermain di Liga Champions,” urai Pochettino.

“Saya rasa tak seorang juga percaya kami main di Liga Champions tiga musim berturut-turut dan kini berlomba di level ini.”

Tottenham memang layak berbangga dengan torehan mereka di Liga Champions. Mereka dapat mengalahkan prestasi klub tetangga, Arsenal kalau dapat menjadi juara Liga Champions.

Arsenal pernah menyamai prestasi Tottenham ketika tembus final Liga Champions 2006. Namun Arsenal yang dinahkodai Arsene Wenger kalah 1-2 dari Barcelona lewat gol Samuel Eto’o dan Juliano Belletti.

Pochettino menuliskan Tottenham menjalani malam yang ajaib di Amsterdam. Dia bahkan tak kuat menyaksikan perjuangan pemainnya yang berjuang keluar dari kesulitan.

“Kami menjalani malam ajaib di sepak bola. Saya sampaikan selamat guna pemain sebab melakukan ini. Saya menangis dengan bahagia saat menyaksikan pemain saya bejuang lawan kesulitan,” katanya laksana dikutip Marca.

“Anda mesti bermain dengan gairah supaya bisa meraih hal-hal besar. Bagi sekarang, kami melulu finalis namun kami layak tampil di Madrid.”

Penantian Liverpool dan Klopp

Laga final Liga Champions nanti juga akan menjadi medium untuk Liverpool untuk menyelesaikan penantian paceklik trofi. Liverpool era Jurgen Klopp seharusnya sudah dapat menggamit gelar Liga Champions musim lalu.

Namun tahapan Liverpool diadang Real Madrid yang menang 1-3. Dua musim sebelumnya, Liverpool juga berkesempatan membawa kembali trofi Liga Europa. Namun di final, Liverpool kalah tragis dari Sevilla.

Pada 2016, Liverpool pun punya kans angkat trofi Piala Liga Inggris. Namun The Reds lagi-lagi terdampar di final usai kalah adu penalti 1-3 dari Manchester City. Maka itu, final Liga Champions musim ini jadi penantian yang mesti diakhiri.

Sadio Mane dan kawan-kawan bertekad guna mengusung trofi Liga Champions yang terakhir kali diperoleh pada 2007 lalu. Trofi Liga Champions akan jadi penghibur bila misalnya Liverpool tidak berhasil juara Liga Inggris.

Jurgen Klopp sendiri mesti punya semangat tinggi supaya tidak trauma dengan kegagalannya di tidak sedikit partai final sekitar kariernya. Tercatat dari 7 laga final yang dia lakoni bareng Borussia Dortmund dan Liverpol, Klopp melulu mampu menang satu kali. Itu pun terjadi pada Piala Bundesliga dimana Dortmund menang 5-2 atas Bayern Munchen pada 2012 lalu.

Namun sekali lagi kenyataan membuktikan Klopp bukan tipikal pelatih yang gampang menyerah. Seperti yang telah ditunjukkannya saat membawa Liverpool menang 4-0 atas Barcelona sesudah kalah 0-3 terlebih dahulu. Maka itu, kegagalan tak bakal pernah ditangisi Klopp. Semangat laksana ini bisa pujian dari mantan pelatih Manchester United (MU), Jose Mourinho.

“Saya mesti mengatakan, remontada (comeback) ini mempunyai satu nama, Jurgen. Saya pikir ini bukan mengenai taktik atau filosofi namun hati, jiwa, dan empati yang ia ciptakan dengan kumpulan pemain ini,” ucap Mourinho soal kemenangan 4-0 Liverpool atas Barcelon.

Mourinho menyatakan, Liverpool mempunyai risiko menuntaskan musim yang luar biasa tanpa merayakan gelar apa pun. Tapi, kini The Reds selangkah lagi menjadi juara Eropa.

“Pekerjaan yang dia (Klopp) kerjakan di Liverpool luar biasa. Saya pikir ini mengenai dia. Ini ialah cerminan kepribadiannya, tidak pernah menyerah, motivasi juang, masing-masing pemain menyerahkan segalanya,” katanya. Jadi apakah Liga Champions akan jadi kepunyaan Liverpool?

Tinggalkan Balasan